Play Streaming Now!!
hot news

Perempuan Gagah Pembela Bangsa

Posted : Jumat, 10 November 2017 15:50 /     /   no komentar

Solopos FM – Saat ini, banyak dari generasi muda Indonesia hanya mengenal R. A Kartini dan Cut Nyak Dien sebagai Pahlawan Nasional Wanita Indonesia. Padahal  sebenarnya masih banyak pejuang-pejuang wanita Indonesia yang gagah berani melawan penjajah demi kemerdekaan Indonesia.

Meskipun Negara sudah merdeka, namun tidak ada salahnya apabila kita kembali mengenal dan mengingat jasa mereka dalam memperjuangkan negara Indonesia dari penjajahan Belanda. Salah satu media yang dapat mengingatkan dan mengenalkan kembali dengan membaca profil mereka. Tidak hanya Kartini dan Cut Nyak Dhien saja yang turut andil dalam membebaskan bangsa Indonesia dari serangan penjajah.Berikut beberapa profil pahlawan wanita :

R.A Kartini

Raden Adjeng Kartini lahir di Jepara, Jawa Tengah pada tanggal 21 April 1979 dan meninggal di Rembang, Jawa Tengah, pada 17 September 1904. R.A Kartini merupakan putri dari pasangan Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, seorang patih yang diangkat menjadi Bupati setelah Kartini lahir dari M.A Ngasirah, putri Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara.

Karena Kartini bisa berbahasa Belanda, maka di rumah Ia mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondesi yang berasal dari Belanda. Salah satunya adalah Rosa Abenanon yang juga mendukung niat baik Kartini. Belajar dari buku, koran, dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir wanita-wanita Eropa dan timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi. Karena ia melihat perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah pada saat itu.

Kartini adalah Pahlawan Nasional Wanita Indonesia paling populer dan jasanya tetap dikenang hingga kini dan setiap pada tanggal 21 April diperingati oleh seluruh rakyat Indonesia sebagai hari lahirnya. Karena dengan keberaniannya, Kartini membuka mata masyarakat mengenai pentingnya pendidikan bagi kaum wanita Indonesia. Selain itu, Kartini juga dikenal melalui buku yang ia tulis dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Dewi Sartika

Dewi Sartika adalah Pahlawan Nasional Wanita Indonesia kelahiran kota Bandung, 4 Desember 1884 dan meninggal di Tasikmalaya pada tanggal 11 September 1947. Ia adalah tokoh perintis pendidikan untuk kaum wanita dan diakui sebagai Pahlawan Nasional Wanita oleh Pemerintah Indonesia pada tahun 1966.

Dewi Sartika adalah putri dari pasangan Raden Somanagara dan Raden Ayu Rajapermas yang pada waktu menjadi patih di Bandung pernah menantang Pemerintah Hindia Belanda. Karena itulah istrinya dibuang ke Ternate sementara Dewi Sartika dititipkan pada pamannya, Patih Arya Cicalengka.

Pada tahun 1906, Dewi Sartika menikah dengan Raden Kanduruan Agah Suriawinata dan memiliki putra yang bernama R. Atot yang merupakan ketua umum BIVB, Sebuah klub sepakbola yang merupakan cikal bakal dari Persib Bandung. Sejak 1902, Dewi Sartika sudah merintis pendidikan bagi kaum perempuan di sebuah ruangan kecil dibelakang rumah ibunya di Bandung.

Dewi Sartika mengajar dihadapan anggota keluarganya yang perempuan, pelajaran yang diberikan misalnya merenda, memasak, jahit menjahit, membaca, menulis dan sebagainya. Usai berkonsultasi dengan Bupati R.A.A Martanagara pada 16 Januari 1904, Dewi Sartika membuka Sakola Istri (Sekolah Perempuan) pertama se-Hindia Belanda.

Fatmawati

Fatmawati yang bernama asli Fatimah ini lahir di Bengkulu pada tanggal 5 Februari 1923 dan meninggal di Kuala Lumpur, Malaysia pada 14 Mei 1980. Merupakan istri dari Presiden Indonesia pertama, Ir. Soekarno. Ia menjadi Ibu Negara Indonesia pertama dari tahun 1945 hingga 1957 dan merupakan istri ketiga dari presiden pertama. Ia juga dikenal akan jasanya dalam menjahit Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih yang turut dikibarkan pada acara Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia di Jakarta pada tanggal 17 Agustus 1945.

Fatmawati lahir dari pasangan Hassan Din dan Siti Chadijah. Orangtuanya adalah keturunan Putri Indrapura, salah seorang raja dari Kesultanan Indrapura, Pesisir Selatan, Sumatera Barat.

Pada tanggal 1 Juni 1943, Fatmawati menikah dengan Ir. Soekarno. Dari pernikahannya Ia dikaruniahi lima orang putra dan putri yaitu, Guntur Soekarnoputra, Megawati Soekarnoputri, Rachmawati Soekarnoputri, Sukmawati Soekarnoputri dan Guruh Soekarnoputra.

Pada tanggal 14 Mei 1980, Ia meninggal karena serangan jantung ketika dalam perjalanan pulang umroh dari Mekkah dan dimakamkan di Pemakaman Karet Divak, Jakarta.

Nyi Ageng Serang

Nyi Ageng Serang bernama asli Raden Ajeng Kustiy Wulaningsih Retno Edi adalah Pahlawan Nasional Wanita Indonesia  kelahiran Serang, Purwodadi, Jawa Tengah. Lahir pada tahun 1752 dan meninggal di Yogyakarta pada tahun 1828. Ia adalah anak Pangeran Natapraja yang menguasai wilayah terpencil dari Kerajaan Mataram atau tepatnya di wilayah Serang yang sekarang merupakan wilayah perbatasan Grobogan – Sragen.

Nyi Ageng Serang adalah salah satu keturunan dari Sunan Kalijaga dan memiliki keturunan yang juga seorang Pahlawan Nasional yaitu Ki Hajar Dewantara. Ia dimakamkan di Kalibawang, Kulon Progo.

Ia merupakan Pahlawan Nasional Wanita Indonesia Yang Mulai Terlupakan karena mungkin namanya tak banyak dikenal seperti halnya Pahlawan Nasional Wanita lainnya seperti R.A Kartina atau Cut Nya Dien tapi Ia sangat berjasa bagi negeri ini. Warga Kulon Progo mengabadikan namanya dalam sebuah monumen ditengah kota Wates berupa patungnya yang sedang menunggang kuda dengan gagah berani membawa tombak.

Raden Ayu Siti Hartinah 

Merupakan Pahlawan Nasional Wanita Indonesia kelahiran Desa Jaten, Surakarta, Jawa Tengah pada tanggal 23 Agustus 1923 dan meninggal di Jakarta pada 28 April 1996. Ia adalah istri presiden kedua Republik Indonesia, Jenderal Punawirawan Soeharto.

Siti Hartinah yang dalam kesehari-hariannya dipanggil “Ibu Tien” merupakan anak kedua dari pasangan KPH Soemoharjomo dan Raden Ayu Hatmanti Hatmohoedjoyo. Ia merupakan canggah Mangkunagara III darui garis ibu. Tien menikah dengan Soeharto pada tanggal 26 Desember 1947 di Surakarta. Siti Hartinah kemudian diberi gelar Pahlawan Nasional Wanita tak lama setelah kematiannya. [Yustina Kartika]