Play Streaming Now!!
hot news

Gelar Pahlawan Nasional Untuk 4 Tokoh Besar Pada Peringatan Hari Pahlawan 2017 Oleh Jokowi

Posted : Jumat, 10 November 2017 15:14 /     /   no komentar

Solopos FM – Indonesia memiliki banyak Pahlawan Nasional. Tokoh-tokoh yang diberi gelar Pahlawan Nasional semuanya memiliki jasa besar pada bangsa Indonesia, baik melalui perjuangan melawan penjajah maupun yang memberikan kontribusi besar dalam berbagai bidang, termasuk pendidikan, ilmu pengetahuan, dan lain sebagainya. Mereka yang diberi gelar Pahlawan Nasional juga adalah mereka yang melahirkan gagasan atau pemikiran besar yang dapat menunjang pembangunan bangsa dan Negara.

Jumlah Pahlawan Nasional dari tahun ke tahun makin bertambah karena setiap tahun pasti ada usulan nama tokoh-tokoh untuk diangkat menjadi Pahlawan Nasional. Untuk tahun 2017 ini, ada empat nama tokoh yang akan diberi gelar Pahlawan Nasional. Pemberian gelar biasanya akan dilangsungkan bertepatan pada Hari Pahlawan yang diperingati tiap tanggal 10 November. Berikut adalah 4 tokoh yang akan diangkat menjadi Pahlawan Nasional pada tanggal 10 November 2017 ini:

Lafran Pane

Tokoh pertama yang akan diberi gelar Pahlawan Nasional pada tanggal 10 November 2017 ini adalah Lafran Pane. Lafran Pane dikenal luas oleh masyarakat Indonesia sebagai salah satu pendiri Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Lafran Pane lahir di Kampung Pangurabaan, Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara pada tanggal 5 Februari 1922 dan wafat pada tanggal 24 Januari 1991. Selama hidupnya, Lafran Pane memberikan banyak kontribusi pada bangsa Indonesia. Kontribusi Lafran Pane pada bangsa ini tidak hanya dengan mendirikan HMI saja tapi juga menghasilkan pemikiran-pemikiran kritis yang beliau tuangkan pada karya-karya tulisnya. Beberapa karya tulis Lafran Pane yang terkenal antara lain adalah “Keadaan dan Kemungkinan Kebudayaan Islam di Indonesia” dan “Memurnikan Pelaksanaan Undang-undang Dasar 1945”.

Selama hidupnya, Lafran Pane pernah menjadi dosen di beberapa universitas ternama, terutama di Yogyakarta, yakni menjadi dosen Fakultas Ilmu Sosial (FKIS) IKIP Yogyakarta (sekarang Universitas Negeri Yogyakarta), dosen Fakultas Sosial dan politik Universitas Gajah Mada (UGM), dosen Universitas Islam Indonesia (UII), dan dosen Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (Sekarang Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta/UIN Suka Yogyakarta).

Mahmud Marzuki

Tokoh kedua yang akan diberi gelar Pahlawan Nasional tahun ini adalah Mahmud Marzuki. Merupakan seorang pejuang, pendakwah, dan politikus yang berasal dari Riau. Mahmud Marzuki dilahirkan dikampung  Kumantan, Bangkinang dalam daerah provinsi Riau pada tahun 1915. Selama hidupnya, Mahmud Marzuki dikenal sebagai tokoh Partai Serikat Islam yang pantang menyerah dalam menghadapi jajahan Belanda dan Jepang. Sebelum wafat pada 5 Agustus 1946, Mahmud Marzuki memberikan banyak kontribusi di berbagai bidang pada bangsa Indonesia.

Marzuki tak hanya dikenal sebagai seorang tokoh yang ikut merintis kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia, namun juga dikenal sebagai tokoh pendidikan dan tokoh penting dalam bidang pendidikan, khususnya fisik,  di Indonesia. Selain itu, Mahmud Marzuki juga merupakan tokoh politik sekaligus tokoh pelopor pengembangan agama yang memiliki andil besar untuk bangsa Indonesia.

Malahayati

Nama Malahayati sudah tidak asing lagi di telinga orang Indonesia, terutama warga Aceh. Malahayati adalah seorang wanita pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Meski berdarah biru, Malahayati yang lahir sekitar abad ke-15 dan wafat pada tahun 1604 tak segan angkat senjata dan memimpin pasukan untuk menghadapi Belanda. Selama ini, Malahayati memang digadang-gadang untuk dimasukkan dalam daftar Pahlawan Nasional Indonesia karena perjuangannya dan kegigihannya dalam menghadapi Belanda, terutama dalam melawan pasukan Cornelis de Houtman.

Pada tanggal 11 September 1599, Malahayati memimpin 2.000 orang pasukan Inong Balee atau janda-janda pejuang yang telah wafat untuk melawan pasukan Cornelis de Houtman, seorang penjelajah Belanda. Malahayati memenangkan pertempuran itu dan berhasil membunuh Cornelis de Houtman. Sejak saat itu, Malahayati diberi gelar Laksamana dan dikenal dengan nama Laksamana Malahayati hingga akhir hidupnya.

Untuk mengenang jasa-jasa Malahayati namanya sering digunakan untuk nama pelabuhan, jalan raya, bahkan universitas, baik di Aceh maupun di luar daerah. Beberapa contohnya adalah Pelabuhan Malahayati yang terletak di Teluk Krueng Raya, Aceh Besar dan Universitas Malahayati yang terdapat di Bandar Lampung.

Muhammad Zainuddin Abdul Madjid

Tokoh terakhir yang akan diberi gelar sebagai Pahlawan Nasional adalah Muhammad Zainudin Abdul Madjid. Muhammad Zainudin dikenal masyarakat luas sebagai seorang ulama karismatis dari Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Lahir di Lombok Timur pada 5 Agustus 1898 dan wafat pada 21 Oktober 1997, Muhammad Zainudin banyak memberikan kontribusi besar pada bangsa Indonesia, terutama dengan mendirikan Nahdlatul Wathan, sebuah organisasi massa Islam terbesar di Lombok. Muhammad Zainudin diberi gelar “Tuan Guru” karena perannya dalam membina, membimbing dan mengayomi umat Islam. Gelar ini setara dengan gelar “Kyai” di Jawa.

Selama hidupnya Muhammad Zainudin Abdul Madjid mendirikan banyak pesantren, madrasah, dan lembaga pendidikan dalam bentuk sekolah tinggi maupun institut. Beberapa di antaranya adalah pesantren al-Mujahidin, Madrasah NWDI, Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Hamzanwadi, Sekolah Tinggi Ilamu Dakwah Hamzanwadi, Madrasah Aliyah Keagamaan putra-putri, dan Institut Agama Islam Hamzanwadi.

Empat tokoh nasional tersebut yang diberi gelar sebagai Pahlawan Nasional pada Hari Pahlawan tanggal 10 November 2017. Proses pemberian gelar Pahlawan Nasional tidak dilakukan dengan sembarang. Kementerian Sosial Indonesia bahkan sudah menetapkan setidaknya tujuh kriteria bagi seorang individu untuk dapat dicalonkan sebagai seorang Pahlawan Nasional. Sehingga, apabila keempat tokoh tersebut telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional, mereka telah berkontribusi besar pada bangsa Indonesia. [Yustina Kartika]